Saat kita mengamati teks, baik teks yang diproduksi pada waktu yang sudah lama maupun teks yang diproduksi baru saja, akan tergambar banyak aspek di dalamnya. Suara ‘Aisyiyah yang terbit sejak 1926 dan terus terbit hingga saat ini juga memiliki banyak aspek untuk dicermati, di antaranya aspek sejarah kebahasaan, aspek fungsi media, aspek pemahaman keagamaan, dan aspek perkembangan berpikir.

Pada usia Suara ‘Aisyiyah yang genap 95 tahun ini, mari kita melihat perkembangan berpikir ‘Aisyiyah yang menunjukkan adanya tujuh jenis jihad literasi Suara ‘Aisyiyah dari masa ke masa.

1. Literasi Aksara

Pada 1926 masyarakat Indonesia, terutama perempuan, masih banyak yang belum mengenyam pendidikan. Saat itu masyarakat Indonesia banyak yang buta huruf Latin, bahkan sebagian tidak mengerti aksara sama sekali. Sehari-hari sebagian masyarakat menggunakan huruf dan bahasa daerah, sementara itu sebagian yang lain familiar dengan huruf Arab atau Pegon.

Karena itulah, perjuangan awal Suara ‘Aisyiyah adalah pemberantasan buta aksara yang fokus pada kemampuan membaca dan menulis Latin. Munculnya Suara ‘Aisyiyah dilandasi spirit agar perempuan-perempuan dapat segera memperoleh pengetahuan dan ilmu dengan benar melalui banyak membaca. Pada awal terbitnya, Suara ‘Aisyiyah menggunakan bahasa Jawa, namun telah menggunakan aksara Latin.

Pada edisi pertama (Oktober 1926), disebutkan fakta sejarah sebagai berikut.
“…Mangga para sederek, koela atoeri menggalih, poendi wonten serat kabar estri ingkang kawedalaken kaoem estri, toewin oegi namoeng toemoedjoe dateng kita sadaja para estri? O, dereng wonten! Mila kita para pangreh ‘Aisjijah mrihatosaken sanget dateng kawontenan ingkang kados makaten waoe, supados sageda ngindakaken kemadjengan kita para estri…”

Artinya: “………Mari saudara, saya persilakan berpikir, adakah surat kabar perempuan yang diterbitkan oleh kaum perempuan, serta hanya ditujukan untuk para perempuan? O, belum ada! Oleh karena itu, pengurus ‘Aisyiyah merasa prihatin dengan keadaan yang demikian dan berusaha agar dapat melakukan kemajuan bagi kita para perempuan” (Suara ‘Aisyiyah, 1926 dalam Wasool dan Mawardi, 1940)

Edisi 1927 (Radjab) juga masih menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Latin dan ejaan masa lampau pada tulisan di halaman 1 sebagai berikut.

“Poeniko madjalah ngemot pinten-pinten kateranganipoen Agami Islam, langkoeng-langkoeng ingkang gegajoetan kalian tiang estri lan kawroeh oemoem toewin kaperloean-kaperloean ingkang sesambetan kalian Moehammadijah bg ‘Aisjijaah…”

Artinya, “Majalah ini memuat berbagai penjelasan agama Islam, terutama yang berhubungan dengan perempuan dan pengetahuan umum, serta keperluan-keperluan yang berkaitan dengan Muhammadiyah bagian ‘Aisyiyah…”

Pada bagian belakang edisi 1927, yaitu mulai halaman 62, Suara ‘Aisyiyah telah menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Hingga 1930, tulisan yang menggunakan bahasa Jawa hanya dua artikel dan pada 1932, Suara ‘Aisyiyah murni menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia.

2. Literasi Derajat Perempuan

Persoalan yang paling banyak dikupas sejak awal diterbitkannya Suara ‘Aisyiyah adalah tulisan-tulisan yang menggugah semangat para perempuan di seluruh Indonesia untuk sadar bahwa derajatnya tidak berbeda dengan laki-laki. Hal ini terdapat pada edisi 1926 yang dikutip oleh Wasool dan Mawardi (1940) sebagai berikut.

“…Kita sadaja para istri oegi kedah nggadahi ngamal pi- jambak, ingkang saged damel kawiloedjengan kita, ing donja doemoegi acherat. Poenapa malih kita sadaja poenika ingkang wadjib djagi dateng para poetra, ingkang nglangkoengi aw- ratipoen tinimbang sederek kakoeng…”

Artinya: “Kita semua para perempuan juga harus memiliki amal sendiri, yang dapat menentukan keselamatan kita di dunia hingga akhirat. Apalagi kita semua ini memiliki kewajiban menjaga anak-anak yang bebannya lebih dibandingkan dengan laki-laki…”

Tulisan tentang derajat perempuan juga terdapat pada Suara ‘Aisyiyah edisi 1927 yang berjudul “Derajadjading Tijang Estri Wonten ing Agami Islam” (Derajat Perempuan dalam Agama Islam), penulisnya anonim yang menyebut diri sebagai Goeroe S.P.Bg. Tadjmiloel Achlak.

Demikian pula pada dekade 1930-an, Suara ‘Aisyiyah terus menyuarakan mengenai derajat perempuan, misalnya pada halaman 311-313 Nomor 12 (Desember) Tahun 1932 dengan judul “Dapatkah Islam Mendjoendjoeng Deradjat Kaoem Poetri?”, karya St. Chafsoh Moenawir Baturijah, Kendal. Pada tahun ini Suara ‘Aisyiyah telah memberitakan pertumbuhan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di luar Jawa, berbagai konferensi, dan berita dari luar negeri.

3. Literasi Cinta Ilmu dan Cinta Tanah Air

Pada masa kemerdekaan, Suara ‘Aisyiyah banyak mengu- pas persoalan pentingnya perempuan menuntut ilmu serta berkontribusi pada tanah air. Kedua masalah ini banyak diu- lang-ulang seakan menunjukkan bahwa persoalan aksara dan derajat perempuan telah selesai pada pemahaman pembaca.

Tulisan Roehidah (Suara ‘Aisyiyah, Agustus 1941, hlm. 430-431) yang berjudul “Hidup… Berilmu” menguraikan sejumlah ayat al-Qur’an dan hadis mengenai kewajiban menuntut ilmu. Gaya bahasa yang digunakan sangat khas, penuh dengan nuansa sastra yang tinggi untuk menyentuh hati pembacanya agar mau terus menuntut ilmu.

Pada masa ini pula, yakni 1942, ‘Aisyiyah menggerakkan penjualan prangko amal Muhammadiyah demi menjalankan misi al-Maun dan berkontribusi nyata bagi persoalan bangsa. Beredisi-edisi Suara ‘Aisyiyah tampak fokus pada penjualan prangko amal untuk PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) ini dalam berbagai iklan dan artikel.

Selain itu, Suara ‘Aisyiyah mengetengahkan tulisan “Kaoem Poetri di dalam Peperangan”. Disampaikan dalam tulisan itu bahwa di negara lain perempuan telah banyak yang ikut dalam peperangan, tetapi di negara kita perempuan belum banyak terlibat dalam peperangan.

Tulisan itu menggugah semangat bahwa perempuan juga harus terlibat dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Ini adalah sebuah tulisan yang fantastik karena disampaikan dalam suasana peperangan. Setelah 1942 itu, penulis belum menemukan edisi Suara ‘Aisyiyah lagi hingga 1952.

4. Literasi Identitas Keislaman dan Keindonesiaan

Pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, Suara ‘Aisyiyah  edisi 1950-an banyak menurunkan tulisan tentang perempuan berkemajuan dalam identitas keislaman dan keindonesiaan. Berbagai artikel menunjukkan adanya tema mengenai ranah publik yang dapat dimasuki oleh perempuan-perempuan yang telah memiliki ilmu, di antaranya sebagai berikut.

“Orang mengatakan bahwa wanita itu tempatnja di dapur, kantor, ke pabrik, dan lain sebagainja, sebagai buruh. Orang tetapi kini kenyataannya tidak. Wanita lari djuga ke luar, ke mengatakan wanita sebaiknja mendjadi pendidik sadja, mendjadi guru, tetapi ternjata pula tidak hanja ke situ wanita menempatkan diri, mereka lari berloma-lomba di lapangan politiek, sebagai wakil ra’jat, pernah ada yang mendjabat menteri dan lain sebagainja. Orang mengatakan bahwa dalam peperangan wanita di garis belakang tempatnja. Tapi kenjataanja tidak, wanita turut pula dalam kantjah peperangan, sebagai penghibur, djuru rawat, bahkan ada pula yang turut memanggul senapan membunuh musuh.” (H.W. Karang Intan, Suara ‘Aisyiyah, Maret 1952, hlm. 65).

Pada edisi-edisi setelahnya (1953-1955), persoalan kiprah perempuan di ranah publik terus-menerus dituliskan, misalnya dalam tulisan “Wanita dalam Pembangunan Negara”, “Wanita dan Gerak Bebas”, “Haruskah Wanita itu Berkain dan Berkebaya?”, “Pribadi Wanita Islam”, dan “Kewajiban Seorang Wanita Islam”. Tulisan-tulisan tersebut mendudukkan identitas perempuan Muslim yang mempunyai adat ketimuran, tetapi memiliki ilmu yang luas melintas batas cakrawala.

Tidak hanya melalui tulisan artikel, gagasan tentang identitas perempuan muslim Indonesia juga disampaikan dalam rubrik-rubrik sastra berupa puisi dan cerpen. Pada 1956, identitas keislaman dan keindonesiaan ini semakin kuat dengan artikel yang berjudul “Beauty Contest: Suata Hal yang Merusak Susila dan Masyarakat.”

5. Literasi Berpikir Kritis

Pada 1960-an Suara ‘Aisyiyah tampil sangat ilmiah. Artikel- dengan perspektif ilmu pengetahuan. Saat itu pemimpin artikelnya dikupas dengan sangat mendalam dan detail
redaksinya adalah Siti Baroroh. Artikel-artikel yang dimuat adalah buah tangan para ilmuan negeri ini, misalnya yaitu Siti Baroroh, Amien Rais, Abdul Hadi W.M., Rachmat Djoko Pradopo, Ismadi, Dawiesah, Baried, dan Tudjimah. Di belakang hari, tokoh-tokoh tersebut dikenal sebagai ilmuwan, guru besar, atau profesor kebanggaan Muhammadiyah.

Tulisan di era 1960-an itu mengupas tema kependudukan, sastra, kesehatan, politik, kepemimpinan, dan tentu saja aga ma. Era ini juga banyak mengupas persoalan internasional dari saduran media-media di luar negeri. Terdapat satu rubrik yang secara eksplisit menunjukkan adanya kemajuan berpikir kritis saat itu, yakni rubrik Ruang Ilmu Pengetahuan.

Rubrik itu di antaranya berisi pemikiran Prof. Dr. Lowenstein dalam artikel yang berjudul “Tak Ada Pertentangan antara Agama dan Ilmu Pengetahuan”. Lowenstein adalah ahli sejarah dan filsafat dari Jerman yang datang ke Yogyakarta saat itu. Karakteristik ilmiah ini diteruskan pada saat Suara ‘Aisyiyah dikelola oleh Siti Chamamah hingga tahun 1970-an.

6. Literasi Responsif terhadap Problematika Zaman

Ketika ‘Aisyiyah telah selesai membahas persoalan aksara, derajat perempuan, identitas keindonesiaan, dan telah dapat berpikir kritis, Suara ‘Aisyiyah memasuki konten mengenai kiprah bagi bangsa yang sangat panjang, yaitu dekade 1980- an hingga dekade 2000-an. Stabilitas yang dicapai bangsa ini membuat Suara ‘Aisyiyah menampilkan tulisan-tulisan mengenai upaya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Dalam berkiprah bagi bangsa, Suara ‘Aisyiyah yang telah menggurita jaringannya hingga ke ranting-ranting negeri ini. Suara ‘Aisyiyah membantu mengkomunikasikan berbagai konsep dari Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah hingga ke akar rumput. Demikian pula sebaliknya, apa yang terjadi pada masyarakat di akar rumput diangkat oleh Suara ‘Aisyiyah agar direspons oleh para pengelola di tingkat pusat.

Hampir semua hal yang dituliskan dalam tiga dekade ini menunjukkan adanya kecerdasan ‘Aisyiyah dalam membaca problematika zaman dan responsif menghadapi problem tersebut. Rubrik konsultasi mulai diadakan pada dekade ini. Nama-nama program ‘Aisyiyah seperti Keluarga Sakinah dan Qaryah Thayyibah pun menjadi nama rubrik yang dapat mendorong percepatan ide pengembangan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya menurut Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Perwakilan dari majelis yang ada di ‘Aisyiyah juga masuk dalam pengelolaan Suara ‘Aisyiyah sehingga majalah ini menunjukkan kiprahnya pada bangsa dalam posisi keorganisasian yang sangat kuat.

7. Literasi Cerdas Digital

Selanjutnya, pada dekade 2000-an perkembangan teknologi terjadi begitu cepat. Awal abad ini orang sudah mengenal internet, walaupun saat itu masih menggunakan komputer. Tema-tema yang ada pada dekade ini selalu tak lepas dari perkembangan teknologi di seluruh dunia, misalnya artikel mengenai mengenal website, memanfaatkan internet, serta adab-adab menggunakan internet.

Tak lama kemudian, masyarakat mulai mengenal internet melalui telepon genggam yang menyebabkan perubahan begitu cepat. Menjelang dekade 2010-an, Suara ‘Aisyiyah terus menerus membahas globalisasi yang terjadi dan sejumlah problem yang muncul dalam kehidupan virtual.

Suara ‘Aisyiyah menjadi media untuk mengingat pembacanya agar memiliki kecerdasan digital dan siap berada pada era post-truth, era yang tidak lagi jelas mana teks berotoritas mana yang tidak. Suara ‘Aisyiyah mensosialiasikan agar pembaca terhindar dari hoaks serta dapat memanfaatkan jejaring virtual sebagai media dakwah dan peningkatan taraf hidup.

Mau tidak mau Suara ‘Aisyiyah harus bertransformasi. Selain terbit dalam bentuk kertas, Suara ‘Aisyiyah juga hadir dalam bentuk digital melalui laman https://suaraaisyiyah.id/.

Konten utama Suara ‘Aisyiyah masih sama dahulu dengan sekarang, yaitu tentang cerdas beraksara (kini komunikasi digital), cerdas memahami kedirian perempuan, cerdas beridentitas keislaman dan keindonesian, cerdas berpikir kritis, cerdas merespons problamatika zaman, dan cerdas dalam menjalani kehidupan digital.

Ini semua adalah bentuk jihad literasi ‘Aisyiyah melalui Suara ‘Aisyiyah. Kategorisasi yang penulis uraikan di atas, tidak memiliki pemisah secara rigid, melainkan bersinggungan tema antara satu dekade dengan dekade lainnya. Jihad literasi dan eksistensi Suara ‘Aisyiyah ini semoga terus mewarnai perjuangan perempuan Indonesia. [10/21] (Adib Sofia)

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: suara aisyiyah • Kunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...