UNISMUH.AC.ID, MAKASSAR — Penutupan kegiatan tidak menjadi akhir dari proses Inclusive Publication Camp (InCAMP) 2026 Batch 1. Para peserta masih dituntut menuntaskan artikel hingga masuk ke jurnal internasional bereputasi Q1-Q4. Capaian publikasi itulah yang akan menjadi salah satu ukuran keberhasilan program sekaligus bahan evaluasi bagi keberlanjutan InCAMP pada tahun berikutnya.
Pesan itu mengemuka dalam penutupan monitoring dan evaluasi InCAMP 2026 di Aula Teater I-Gift Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menandai selesainya rangkaian pendampingan dalam beberapa tahap, mulai dari pertemuan luring pertama, pendampingan daring selama sekitar tiga bulan, hingga monitoring dan evaluasi luring di Makassar.
Ketua Tim Artikel Ilmiah Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Moch Husni Tamrin, mengatakan, peserta tidak boleh berhenti ketika artikel sudah dikirimkan ke jurnal.
“Jangan hanya berhenti sampai submit. Kalau ditolak, ajukan lagi, submit lagi, dan seterusnya,” kata Husni.
Menurut dia, peserta perlu mengupayakan jurnal dengan kuartil tertinggi yang dapat dijangkau. Sasaran program tetap diarahkan pada jurnal internasional Q1 hingga Q4.
“Kalau tidak bisa Q1, maksimalkan Q2. Kalau Q2 belum bisa, ke Q3, dan paling tidak Q4. Jangan sampai yang non-Q karena puncak program kita adalah Q1 sampai Q4,” ujarnya.
Husni berharap seluruh peserta dapat menuntaskan proses pengiriman artikel paling lambat hingga akhir Desember 2026. Bukti pengiriman artikel juga menjadi salah satu syarat untuk memperoleh sertifikat program.
Menurut dia, capaian peserta akan ikut menentukan evaluasi program pada tahun berikutnya. Karena itu, keberhasilan InCAMP tidak hanya diukur dari selesainya pelatihan, tetapi dari keluaran yang benar-benar dihasilkan peserta.
“Kalau Bapak dan Ibu ingin membantu teman-teman lain agar program ini bisa berlanjut, bantu kami mencapai luaran program ini,” katanya.
Kapasitas Penulis
Dampak pendampingan juga terlihat dari pengalaman peserta.
Salah seorang peserta mengatakan, sebelum mengikuti InCAMP dirinya hanya memiliki satu publikasi terindeks Scopus. Setelah mengikuti rangkaian pendampingan, ia tidak hanya menyelesaikan artikel yang menjadi persyaratan program, tetapi juga mengirimkan dua artikel tambahan yang kini berada dalam proses penelaahan.
“Yang berubah bukan hanya skill kami dalam menulis, tetapi kapasitas kami sebagai penulis,” ujarnya.
Menurut dia, peserta tidak hanya belajar mengenai teknik menulis artikel. Pendampingan juga membantu mereka membangun sikap akademik ketika menghadapi komentar reviewer, memperbaiki struktur argumentasi, serta menilai kembali logika tulisan.
“Bukan hanya kuantitas artikel yang berhasil kami unggah. Sekarang kami lebih jeli melihat bangunan struktur logika dalam artikel yang sedang kami buat,” katanya.
Ia berharap pola pendampingan InCAMP dipertahankan. Salah satu kekuatan program, menurut dia, ialah keterlibatan fasilitator yang tidak berhenti pada tahap penyusunan naskah, tetapi berlanjut hingga peserta menghadapi proses review.
Pertemuan selama program juga membuka ruang kolaborasi antarpeserta yang berasal dari berbagai bidang ilmu dan perguruan tinggi.
Dari Draft ke Reviewer
Pengalaman serupa disampaikan Fatimah Zahra dari Universitas Bosowa yang tengah menempuh Program Doktor Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Malang.
Menurut Fatimah, salah satu persoalan yang dihadapi penulis artikel internasional ialah menjembatani banyaknya bacaan dan gagasan menjadi manuskrip yang siap dikirimkan ke jurnal.
Pendampingan rutin bersama fasilitator membantu dirinya menyelesaikan proses itu.
“Alhamdulillah, saya submit satu minggu yang lalu. Kemudian ternyata tidak langsung ditolak, bahkan sudah ada review-nya. Itu suatu kebanggaan bagi saya,” katanya.
BACA JUGA
Fatimah mengatakan, kelompoknya mendapat pendampingan secara daring setiap pekan. Pola tersebut membuat peserta memiliki target yang jelas sekaligus tekanan positif untuk terus memperbaiki tulisan.
“Harus ada pendampingan. Setidaknya ada hal yang membuat kita semangat untuk terus belajar,” ujarnya.
Bagi peserta yang sedang menempuh pendidikan doktoral, publikasi internasional juga berkaitan langsung dengan kebutuhan akademik. Sementara bagi dosen yang telah bergelar doktor, publikasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan karier akademik, termasuk menuju jenjang guru besar.
Apresiasi untuk Peserta
Pada penutupan kegiatan, panitia memberikan apresiasi kepada sepuluh peserta terbaik dari masing-masing kelompok pendampingan.
Husni mengatakan, setiap peserta memiliki dinamika dan perjalanan yang berbeda dalam upaya menembus jurnal internasional.
“Semua adalah yang terbaik bagi kami karena semuanya punya perjalanan sendiri, punya dinamika sendiri dalam perjalanan menanjak gunung Q1 sampai Q4,” katanya.
Sepuluh peserta yang mendapat penghargaan ialah Andi Kaharuddin, Sindi Ambar Puspitasari, Eka Aprianti, Fatoni, Iwanita Amalia, Nurhaliza Rustan, Maya Itasari, Kusrawan, Isnaini Edi Saputro, dan Ida Bagus Gede Surya Peradanta.
Mereka menerima sertifikat penghargaan sebagai peserta terbaik di kelompok masing-masing, selain sertifikat peserta program.
Harapan Unismuh
Ketua Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat Unismuh Makassar, Dr Muh Arief Muhsin, yang mewakili pimpinan universitas menutup kegiatan secara resmi.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kemendiktisaintek yang kembali mempercayakan Unismuh sebagai mitra pelaksanaan program.
“Terima kasih karena tetap mempercayakan kami melaksanakan program-programnya. Insyaallah berbagai kekurangan yang ada akan menjadi pelajaran bagi kami,” ujarnya.
Arief juga menyampaikan penghargaan kepada para fasilitator yang terus mendampingi peserta selama proses penulisan dan publikasi.
Ia berharap seluruh artikel yang telah melalui proses pendampingan dapat berujung pada publikasi.
“Semoga dengan kegiatan ini seluruh pendampingan di Universitas Muhammadiyah Makassar insyaallah akan terbit semua,” katanya.
Menurut Arief, publikasi internasional tidak hanya penting bagi reputasi perguruan tinggi, tetapi juga bagi perjalanan akademik dosen, baik mereka yang sedang menyelesaikan studi doktoral maupun yang mempersiapkan pengusulan jabatan akademik guru besar.
Penutupan kegiatan diakhiri dengan foto bersama peserta, fasilitator, tim Kemendiktisaintek, dan panitia Unismuh Makassar.
Bagi Husni, selesainya kegiatan di Makassar merupakan akhir dari tahapan InCAMP Batch 1, tetapi bukan akhir dari proses publikasi peserta.
“Terima kasih sudah bertahan, terima kasih sudah berjuang. Insyaallah kita akan menang,” ujarnya.
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: UNISMUH Makassar • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca