ums.ac.id, SURAKARTA – Upaya melestarikan bahasa Jawa di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda dilakukan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui pelatihan pembawa acara atau pambiwara. Tim Hibah Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Dosen dan Tendik Fakultas Geografi UMS menggelar pelatihan MC Bahasa Jawa bagi kader dan anggota Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Baki guna meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri dalam menjalankan peran sebagai pambiwara, sekaligus memperkuat keterampilan kader dalam kegiatan organisasi dan dakwah.
Pelatihan bertema “Nguri-uri Basa, Nguwatake Dakwah” tersebut berlangsung di Gedung Al Fajri, Waru, Baki, Sabtu (19/9/2026). Program ini menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim P2M UMS yang terdiri atas Afifah Nurlaila, Rudiyanto, dan Nirma Lila Anggani. Pembelajaran dirancang tidak hanya melalui pertemuan tatap muka, tetapi juga dilanjutkan secara daring melalui Google Classroom.
Ketua PCNA Baki, Mardiana, menyambut baik pelatihan tersebut. Menurutnya, pelatihan keterampilan dalam menggunakan bahasa Jawa sesuai unggah-ungguh basa tidak hanya penting dikuasai MC para kader, namun juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya bahasa jawa. “Sebagai orang asli Jawa, semoga kita dapat lebih baik lagi menggunakan bahasa Jawa yang sesuai unggah-ungguh basa,” ujar Mardiana, Selasa (22/9/2026).

Program pelatihan tersebut turut menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Eko Joko Trihadmono, M.Pd. dan Wahyu Rintoko Aji, S.Pd., Gr., dengan memberikan materi mengenai penggunaan bahasa jawa serta teknik hamicara dan pambiwara. Dr. Eko yang merupakan guru Bahasa Jawa sekaligus Wakil Kepala Humas SMK Negeri 8 Surakarta, praktisi pambiwara, dan Dosen Luar Biasa Pascasarjana UNS, menjelaskan bahwa penguasaan bahasa menjadi bagian penting dalam menjalankan peran sebagai pambiwara.
Menurutnya, bahasa memiliki tiga fungsi utama, yakni ideasional untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman pribadi, fungsi interpersonal sebagai sarana membangun hubungan antara penutur dan mitra tutur, serta tekstual untuk mewujudkan gagasan dalam bentuk tuturan.
BACA JUGA
“Mupangatipun basa iku ana tiga, yaiku mupangat ideasional, interpersonal, lan tekstual. Basa minangka sarana medhar gagasan lan pengalaman, mbangun sesambungan antarane penutur lan petutur, uga mujudake angen-angen ingkang sinerat,” ungkap Dr. Eko.
Dalam materi tersebut, peserta juga dikenalkan dengan sejumlah kosakata bahasa Jawa yang lebih sesuai digunakan dalam konteks pambiwara. Beberapa di antaranya penggunaan “matur nuwun” sebagai bentuk yang tepat dari “matur suwun”, “taken” atau “nyuwun pirsa” untuk menggantikan “tanglet”, serta “mligi” untuk istilah khusus. Pemaparan tersebut diarahkan agar peserta tidak sekadar mampu berbicara dalam bahasa Jawa, tetapi juga memahami penggunaan bahasa sesuai konteks dan unggah-ungguh.
Sementara itu, Wahyu Rintoko Aji memberikan materi mengenai teknik hamicara dan pambiwara. Ia menekankan bahwa kemampuan menjadi pambiwara tidak hanya dituntut memiliki keterampilan berbicara saja. Melainkan seorang pambiwara juga perlu memiliki pengetahuan, penampilan yang sesuai, serta etika dan sopan santun. “Seorang pambiwara setidaknya harus menguasai empat hal, yaitu pengetahuan yang cukup, kemampuan berbahasa yang baik, berbusana yang baik dan pantas, serta memiliki etika dan sopan santun,” terang Rintoko Aji.
Selain menerima materi, peserta kemudian mempraktikkan langsung peran sebagai pambiwara dan memperoleh umpan balik dari narasumber. Rintoko Aji menjelaskan, busana yang baik tidak harus mahal, tetapi perlu menunjang penampilan dan disesuaikan dengan konteks acara serta lingkungan masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Afifah Nurlaila, mengatakan program tersebut dirancang agar proses belajar tidak berhenti setelah pelatihan tatap muka. Peserta mendapatkan akses pembelajaran melalui Google Classroom yang berisi modul, video pembelajaran, kuis, dan tugas.
“Kegiatan ini disetting dengan dua model kelas, yaitu online dan offline. Dengan adanya pendampingan melalui kelas online di Google Classroom, diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta dan memperdalam materi kembali,” ujar Afifah. Ia berharap pelatihan Keterampilan pambiwara dapat mendorong kemampuan dan menunjang kesiapan kader dalam berbagai kegiatan organisasi, sosial, dan dakwah, sekaligus memberi ruang bagi generasi muda untuk terus menggunakan bahasa Jawa secara tepat di tengah masyarakat. (ARP/Humas)
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: UMS • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca