Kabut asap akibat Karhutla di Kalimantan (Sumber, Kompas.id)

Oleh: Naimah*

Asap kembali menyelimuti langit Kalimantan Selatan. Di sejumlah wilayah, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bukan lagi sekadar berita yang kita saksikan dari layar gawai.

Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari: mengganggu pernapasan, membatasi aktivitas anak-anak, mengkhawatirkan para orang tua, dan membuat masyarakat bertanya-tanya kapan udara kembali bersih.

Di balik kepulan asap, ada kehidupan yang harus terus berjalan. Ada ibu yang tetap menyiapkan makanan untuk keluarganya, petani yang khawatir terhadap lahan dan penghasilannya, anak-anak yang membutuhkan udara sehat untuk tumbuh, serta para lansia dan penyandang disabilitas yang mungkin lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.

Dalam situasi seperti ini, apa makna Islam Berkemajuan? Apakah cukup dengan mengajak masyarakat berdoa agar hujan turun dan api segera padam? Tentu tidak.

Doa adalah kekuatan spiritual. Namun, Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa doa harus berjalan bersama ikhtiar, ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan tindakan nyata.

Ketika karhutla terjadi di Kalimantan Selatan, Islam Berkemajuan hadir dengan semangat: berdoa, memahami ilmu kebencanaan, menjaga kesehatan, membantu masyarakat terdampak, memadamkan api, memulihkan kehidupan, serta menjaga alam agar bencana tidak terus berulang.

Karhutla: Ujian Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Bersama

Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan api yang membakar semak, gambut, atau pepohonan. Karhutla juga menyangkut keselamatan manusia, kesehatan masyarakat, keberlangsungan ekonomi, dan masa depan lingkungan.

Asap yang pekat dapat membuat masyarakat kesulitan bernapas. Sekolah dan aktivitas luar ruangan bisa terganggu. Anak-anak tidak dapat bermain dengan leluasa. Para pekerja yang menggantungkan penghasilan di luar rumah menghadapi risiko kesehatan dan berkurangnya pendapatan.

Bagi keluarga yang memiliki anggota lansia, balita, atau penyandang disabilitas, situasi ini membutuhkan perhatian lebih. Mereka mungkin memerlukan bantuan untuk memperoleh informasi, mengakses layanan kesehatan, atau berpindah ke tempat yang lebih aman apabila kondisi mengharuskan.

Di sinilah nilai kemanusiaan Islam diuji. Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”(QS. Al-Ma’idah [5]: 32)

Ayat ini mengingatkan bahwa menjaga kehidupan manusia merupakan tanggung jawab yang sangat mulia. Maka, membantu masyarakat yang terdampak karhutla bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam.

Memberikan masker kepada warga, menyediakan air bersih, membantu keluarga yang kesulitan, dan mendampingi kelompok rentan merupakan bentuk nyata kepedulian kemanusiaan.

Islam Berkemajuan: Menjaga Kehidupan dan Merawat Alam

Islam Berkemajuan tidak cukup hanya mengajak masyarakat mengatakan, “Marilah kita berdoa agar bencana segera berhenti.”

Lebih dari itu, kita diajak untuk berkata, “Marilah kita berdoa, memahami penyebab dan risiko karhutla, menjaga kesehatan, membantu korban, mencegah kebakaran, merawat lingkungan, dan membangun kehidupan yang lebih aman.”

Inilah cara beragama yang tidak memisahkan kesalehan spiritual dari tanggung jawab sosial.

Kita berdoa agar hujan turun, tetapi juga memahami bahwa hujan bukan satu-satunya solusi. Selain itu, kita harus mencegah sumber api, menjaga lahan, menghindari pembakaran yang berisiko, memperkuat kesiapsiagaan, dan mengikuti arahan pihak berwenang.

Kita memohon perlindungan Allah, tetapi juga menggunakan ilmu pengetahuan untuk memahami kualitas udara, risiko kesehatan, arah penyebaran asap, serta langkah evakuasi yang tepat.

Kita percaya pada takdir Allah, tetapi tidak menjadikan takdir sebagai alasan untuk menyerah terhadap keadaan.

Tidak Pasif dengan Menyebut Karhutla sebagai Takdir

Dalam kehidupan beragama, takdir tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk mengabaikan ikhtiar.

Ketika kebakaran terjadi, manusia memiliki tanggung jawab untuk mencari penyebab, mengurangi risiko, dan mencegah kerusakan yang lebih luas.

Karhutla memang dapat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, kekeringan, dan faktor alam. Namun, tidak semua kebakaran terjadi semata-mata karena faktor alam. Aktivitas manusia, pengelolaan lahan, dan perilaku yang tidak bertanggung jawab juga dapat berperan.

Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menilai setiap kejadian. Tidak semua karhutla boleh langsung dituduhkan kepada pihak tertentu tanpa bukti. Namun, setiap kebakaran juga tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dicegah.

Sikap Islam Berkemajuan adalah sikap yang adil, ilmiah, dan bertanggung jawab: mencari fakta, menghormati proses hukum, memperkuat edukasi, mendorong pencegahan, dan memastikan masyarakat tidak menjadi korban berulang dari persoalan yang sama.

Allah SWT berfirman:“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf [7]: 56)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia memiliki amanah untuk merawat bumi, bukan merusaknya.

Merawat Alam adalah Bagian dari Ibadah

Kalimantan Selatan memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Hutan, lahan gambut, sungai, rawa, dan berbagai ekosistem menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Alam bukan sekadar sumber ekonomi. Alam adalah ruang kehidupan. Dari alam, masyarakat memperoleh air, pangan, penghasilan, dan tempat tinggal. Ketika alam rusak, manusia juga merasakan dampaknya.

Karena itu, menjaga lingkungan tidak boleh dipandang sebagai urusan kelompok pecinta alam saja. Ia merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Merawat alam adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan, kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui berbagai langkah nyata:

  1. Mengedukasi masyarakat tentang bahaya pembakaran hutan dan lahan.
  2. Mendorong pengelolaan lahan yang aman dan tidak merusak lingkungan.
  3. Memperkuat kesadaran masyarakat tentang perlindungan lahan gambut.
  4. Mendukung upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana.
  5. Mengembangkan kegiatan penghijauan dan pemulihan lingkungan.
  6. Mengajak generasi muda mencintai alam melalui pendidikan dan aksi nyata.
  7. Membangun kerja sama antara masyarakat, pemerintah, organisasi keagamaan, dan berbagai pihak terkait.

Semua itu merupakan bentuk amal yang memberikan manfaat luas. Sebab, menjaga satu sumber air, menyelamatkan satu kawasan hutan, atau mencegah satu titik api berkembang menjadi kebakaran besar dapat berarti menjaga kehidupan banyak orang.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah: Gerakan Amal yang Harus Hadir

Sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui pelayanan kemanusiaan.

Gerakan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) menjadi salah satu bukti bahwa sejak awal Muhammadiyah telah mengembangkan semangat pertolongan kepada masyarakat yang mengalami kesulitan.

Semangat tersebut tetap relevan dalam menghadapi karhutla di Kalimantan Selatan.

Ketika masyarakat menghadapi asap dan dampak kebakaran, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dapat mengambil peran sesuai kemampuan dan kewenangannya. Bukan berarti organisasi harus menggantikan tugas pemerintah atau lembaga penanggulangan bencana. Namun, organisasi keagamaan memiliki kekuatan besar dalam membangun kesadaran, menggerakkan relawan, mendampingi masyarakat, dan memperkuat solidaritas sosial.

Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, Majelis Kesehatan, Majelis Lingkungan Hidup, lembaga pendidikan, serta berbagai unsur organisasi lainnya, gerakan kemanusiaan dapat dikembangkan secara terkoordinasi.

‘Aisyiyah juga memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa perempuan, anak-anak, lansia, dan kelompok rentan tidak tertinggal dalam penanganan bencana. Karhutla tidak hanya membutuhkan pemadaman api. Ia membutuhkan gerakan bersama untuk menjaga kehidupan.

Tidak Ada yang Tertinggal dalam Bencana

Salah satu nilai penting dalam gerakan inklusi adalah memastikan tidak ada yang tertinggal. Prinsip ini sangat relevan ketika karhutla melanda.

Dalam situasi bencana, kelompok masyarakat tidak selalu memiliki kemampuan yang sama untuk melindungi diri. Ada keluarga yang mampu membeli perlengkapan perlindungan kesehatan, namun tidak sedikit dari mereka yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mungkin ada warga yang mudah memperoleh informasi melalui telepon genggam. Namun ada juga lansia yang membutuhkan pendampingan langsung, termasuk penyandang disabilitas yang memerlukan akses informasi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Maka, respons terhadap karhutla harus memperhatikan keberagaman kondisi masyarakat.

Bantuan kemanusiaan perlu diberikan secara adil dan tepat sasaran. Informasi tentang kondisi udara, lokasi layanan kesehatan, dan langkah keselamatan harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan, bila diperlukan, melalui berbagai bentuk komunikasi yang aksesibel.

Inilah wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin: Islam yang tidak hanya memikirkan keselamatan sebagian orang, tetapi berusaha menghadirkan perlindungan bagi seluruh masyarakat.

Dari Bantuan Darurat Menuju Ketahanan Masyarakat

Respons terhadap karhutla tidak boleh berhenti ketika asap mulai berkurang. Bantuan darurat memang penting. Namun, masyarakat juga membutuhkan pemulihan dan penguatan ketahanan untuk menghadapi risiko di masa depan.

Keluarga yang kehilangan penghasilan perlu mendapat perhatian. Anak-anak yang terganggu aktivitas belajarnya perlu didampingi. Masyarakat yang mengalami dampak kesehatan perlu memperoleh akses layanan yang memadai.

Di tingkat desa, penting untuk memperkuat kesiapsiagaan melalui:

Desa yang tangguh bukan hanya desa yang mampu memadamkan api. Desa yang tangguh adalah desa yang mampu mencegah, merespons, dan pulih dari bencana dengan melibatkan seluruh warganya.

Gerakan Ilmu, Dakwah, dan Amal

Risalah Islam Berkemajuan menegaskan pentingnya gerakan dakwah, tajdid, ilmu, dan amal. Keempat gerakan ini dapat menjadi landasan dalam menghadapi karhutla di Kalimantan Selatan.

Gerakan dakwah mengajak masyarakat menjaga lingkungan sebagai amanah Allah. Tajdid mendorong pembaruan cara berpikir dan perilaku agar masyarakat tidak mengulangi praktik yang merusak alam.

Gerakan ilmu mengembangkan kajian, edukasi, dan inovasi tentang kebencanaan, kesehatan, serta pengelolaan lingkungan. Sementara gerakan amal menghadirkan tindakan nyata untuk membantu masyarakat terdampak dan memperkuat kehidupan mereka.

Keempatnya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Dakwah membutuhkan ilmu. Ilmu membutuhkan amal. Amal membutuhkan tata kelola yang baik. Dan semuanya harus diarahkan untuk kemaslahatan manusia serta kelestarian alam.

Menjadi Bagian dari Solusi

Kita tidak selalu mampu memadamkan seluruh api. Termasuk kita tidak selalu dapat mengendalikan cuaca. Kita juga tidak dapat menyelesaikan persoalan karhutla seorang diri. Namun, kita selalu dapat mengambil bagian.

Masyarakat dapat memulai dari hal-hal sederhana: tidak membakar lahan secara sembarangan, menjaga lingkungan sekitar, melaporkan titik api melalui saluran resmi, membantu tetangga yang membutuhkan, dan mengikuti informasi kebencanaan yang dapat dipercaya.

Para pemimpin organisasi dapat memperkuat koordinasi dan edukasi. Lembaga pendidikan dapat menanamkan kesadaran lingkungan kepada generasi muda. Tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi tentang perlindungan kesehatan saat kualitas udara memburuk. Para relawan dapat membantu sesuai pelatihan dan memperhatikan keselamatan diri.

Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus memperkuat pencegahan, penegakan aturan, pengelolaan lahan, serta perlindungan masyarakat.

Semua pihak memiliki peran. Sebab, karhutla bukan hanya persoalan satu lembaga. Ia adalah persoalan bersama yang membutuhkan tanggung jawab bersama.

Penutup: Islam yang Menghadirkan Harapan

Kalimantan Selatan membutuhkan lebih dari sekadar rasa prihatin ketika asap datang. Kita membutuhkan kesadaran, ilmu, kepedulian, dan keberanian untuk bertindak.

Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa keberagamaan harus menghadirkan kemajuan dalam kehidupan. Ia membebaskan manusia dari kebodohan, memberdayakan masyarakat yang lemah, dan memajukan kehidupan melalui ilmu serta amal nyata.

Dalam menghadapi karhutla, semangat itu berarti tidak menyerah pada keadaan. Kita berdoa, tetapi juga berusaha. Bersabar, tetapi tidak pasif. Membantu korban, tetapi juga mencegah bencana. Kita memikirkan hari ini, tetapi juga menjaga masa depan. Kita membangun solidaritas, tetapi juga memperjuangkan keadilan lingkungan.

Semoga Allah SWT melindungi masyarakat Kalimantan Selatan, memberikan kekuatan kepada para petugas dan relawan, serta membimbing kita untuk menjadi manusia yang amanah dalam menjaga bumi.

Mari kita jadikan karhutla sebagai pengingat bahwa kehidupan harus dijaga, alam harus dirawat, dan kemanusiaan harus diperjuangkan.

Karena Islam Berkemajuan bukan hanya tentang bagaimana kita menghadapi bencana, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun kehidupan yang lebih aman, lebih adil, lebih berdaya, dan lebih bermartabat.

Tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang dibiarkan berjuang sendirian. Dan tidak ada alasan untuk berhenti berbuat baik. Berkemajuan dalam menghadapi karhutla dan berkemajuan dalam merawat bumi.

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: suara aisyiyah • Kunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...