Guru dedikatif (Foto: IGMTVnews)

Oleh: Sudaryanto*

Menjadi dosen koordinator lapangan (DKL) dan dosen pembimbing lapangan (DPL) Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) I dan II memberikan pengalaman berharga bagi saya untuk berinteraksi secara langsung dengan mahasiswa kependidikan dan warga sekolah.

Dalam beberapa kesempatan, saya mendapat amanah sebagai DKL PLP I di SMP Muhammadiyah 2 Gamping serta DPL PLP II di SMAN 1 Jetis dan SMP Muhammadiyah 1 Kretek.

Berada di tengah-tengah mahasiswa yang sedang mengenali dunia persekolahan sekaligus berinteraksi dengan para guru pamong membuat saya semakin memahami bahwa menjadi guru tidak cukup hanya bermodalkan penguasaan materi pembelajaran.

Guru membutuhkan kesiapan pedagogis, kematangan kepribadian, kemampuan sosial, profesionalisme, dan terutama dedikasi untuk mendampingi tumbuh kembang peserta didik.

PLP I dan PLP II karena itu tidak sekadar menjadi bagian administratif dari kurikulum program studi kependidikan. Keduanya merupakan bagian penting dari ekosistem pembentukan mahasiswa kependidikan atau calon guru, termasuk mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Melalui pengalaman berada di sekolah, mahasiswa berkesempatan menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas pendidikan yang sesungguhnya. Mereka belajar memahami karakter peserta didik, budaya sekolah, tugas guru, pengelolaan kelas, perencanaan pembelajaran, hingga komunikasi dengan sesama pendidik.

Lebih dari itu, interaksi tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa profesi guru merupakan panggilan untuk mengabdi sekaligus profesi profesional yang menuntut komitmen berkelanjutan.

Guru yang Dedikatif

Peluang mahasiswa kependidikan untuk menjadi guru yang dedikatif sesungguhnya terbuka luas. Pendidikan dasar, menengah pertama, hingga menengah atas membutuhkan guru yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga mampu menjadi pendamping, motivator, dan teladan bagi peserta didik.

Karena itu, sejak masih menjadi mahasiswa, calon guru perlu membangun orientasi bahwa pekerjaan mengajar bukan sekadar menyampaikan pengetahuan dari guru kepada murid. Mengajar adalah proses memfasilitasi peserta didik agar mampu mengenali potensi dirinya, berpikir kritis, berkarakter, dan berkembang menjadi manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman.

Dedikasi seorang guru dapat dimulai dari kesediaan untuk terus belajar. Dunia pendidikan bergerak sangat dinamis seiring perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik, tuntutan kompetensi abad ke-21, dan munculnya berbagai persoalan sosial di lingkungan sekolah.

Calon guru perlu membiasakan diri membaca, melakukan penelitian sederhana, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan guru, serta memanfaatkan berbagai sumber belajar. Guru yang berhenti belajar berpotensi tertinggal oleh perubahan, sedangkan guru yang memiliki budaya belajar akan lebih mudah beradaptasi dan menghadirkan pembelajaran yang relevan bagi peserta didik.

Strategi berikutnya adalah membangun kepekaan terhadap peserta didik. Guru yang dedikatif tidak melihat murid hanya sebagai angka dalam daftar presensi atau nilai dalam rapor. Setiap peserta didik memiliki latar belakang, karakter, kemampuan, minat, dan persoalan yang berbeda.

Oleh sebab itu, calon guru perlu belajar memahami peserta didik secara utuh. Kepekaan tersebut akan membantu guru memilih pendekatan pembelajaran yang lebih manusiawi, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, baik di SD, SMP, maupun SMA.

Calon guru juga perlu mengembangkan kreativitas dan kemampuan berinovasi. Pembelajaran yang monoton akan semakin sulit menjawab kebutuhan generasi yang hidup dalam lingkungan digital dan penuh perubahan.

Mahasiswa kependidikan dapat mulai berlatih merancang media pembelajaran, memanfaatkan teknologi secara proporsional, mengembangkan model pembelajaran berbasis proyek, menghadirkan pembelajaran kontekstual, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

Dedikasi guru pada akhirnya tidak hanya terlihat dari lamanya waktu berada di sekolah, tetapi juga dari kesungguhannya mencari cara agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Selain kompetensi pedagogis dan profesional, calon guru harus membangun integritas. Guru merupakan figur yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi teladan bagi peserta didik. Karena itu, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, kepedulian, dan konsistensi antara perkataan dan tindakan harus dibentuk sejak mahasiswa.

Seorang calon guru yang terbiasa bertanggung jawab terhadap tugas kuliah, menghargai dosen dan teman, disiplin dalam PLP, serta terbuka menerima kritik sesungguhnya sedang membangun fondasi karakter profesionalnya. Kebiasaan-kebiasaan kecil selama masa pendidikan tinggi dapat menjadi modal penting ketika kelak menjalankan profesi guru.

Ekosistem Mahasiswa Kependidikan

Dalam proses tersebut, dosen dan pengelola program studi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem mahasiswa kependidikan yang berdedikasi tinggi. Perkuliahan tidak semestinya hanya berorientasi pada penyelesaian materi dan pencapaian nilai akademik.

Baca Juga: Keniscayaan Guru Profesional

Dosen perlu mengembangkan perkuliahan yang inovatif-adaptif, yakni pembelajaran yang mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan sekolah, dan karakter generasi peserta didik. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk berdiskusi, berkolaborasi, memecahkan masalah pendidikan, menghasilkan karya, melakukan refleksi, dan mengembangkan kreativitas sebagai calon pendidik.

Ekosistem tersebut juga perlu diperkuat melalui pengalaman nyata di dunia kerja pendidikan. Magang kerja, termasuk PLP I dan PLP II, merupakan salah satu wahana yang penting untuk tujuan tersebut. Melalui PLP I, mahasiswa dapat mengenali kultur dan lingkungan persekolahan secara lebih dekat, sedangkan PLP II memberikan pengalaman yang lebih intensif dalam praktik kependidikan dan pembelajaran.

Kehadiran mahasiswa di sekolah memungkinkan mereka belajar dari guru yang berpengalaman sekaligus memperoleh umpan balik atas praktik yang dilakukan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat mahasiswa menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga menjadi ruang belajar profesional bagi calon guru.

Dosen dan pengelola program studi juga perlu memberikan bimbingan karier yang jelas kepada mahasiswa. Mahasiswa kependidikan perlu memahami bahwa setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, terdapat berbagai jalur pengembangan profesi yang dapat ditempuh. 

Mereka perlu memperoleh informasi tentang kebutuhan guru, pengembangan kompetensi, sertifikasi, peluang melanjutkan studi, pengembangan karier, hingga pemanfaatan teknologi dalam profesi pendidikan.

Jika mahasiswa memiliki gambaran karier yang jelas, proses pendidikan di perguruan tinggi akan dipandang bukan sekadar perjalanan memperoleh ijazah, melainkan proses mempersiapkan diri menuju profesi yang memiliki masa depan.

Pada saat yang sama, profesi guru perlu terus dibangun sebagai profesi yang menjanjikan secara ekonomi, sosial, dan intelektual. Guru yang profesional dan berdedikasi semestinya memperoleh penghargaan yang layak atas tanggung jawab besar yang diembannya.

Ketika mahasiswa melihat adanya prospek karier yang jelas, ruang pengembangan diri yang luas, penghargaan terhadap profesionalisme, dan kesempatan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, pilihan menjadi guru akan semakin bermakna.

Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga melahirkan calon guru yang memiliki visi profesi, daya juang, dan komitmen pengabdian.

Proses Panjang

Pada akhirnya, PLP I dan PLP II merupakan salah satu ekosistem penting dalam menyiapkan mahasiswa kependidikan menjadi calon guru yang berdedikasi tinggi. Pengalaman di sekolah mempertemukan mahasiswa dengan realitas pendidikan yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kuliah.

Di sana, mereka belajar bahwa menjadi guru membutuhkan ilmu, keterampilan, kesabaran, kreativitas, keteladanan, dan kepedulian terhadap peserta didik. Karena itu, keberadaan PLP perlu terus diperkuat melalui kolaborasi yang sehat antara perguruan tinggi, program studi, dosen, sekolah, guru pamong, dan mahasiswa.

Ekosistem calon guru yang dedikatif pada akhirnya tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui proses panjang yang melibatkan perkuliahan yang bermutu, pengalaman lapangan yang autentik, keteladanan dosen dan guru, bimbingan karier, budaya akademik, serta kesempatan untuk terus belajar dan berefleksi.

PLP I dan PLP II dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk menumbuhkan proses tersebut sejak dini. Jika ekosistem itu dibangun secara konsisten, kita tidak sekadar menyiapkan mahasiswa untuk menjadi guru yang mampu mengajar, tetapi menyiapkan pendidik yang hadir dengan hati, bekerja dengan kompetensi, dan mengabdi dengan dedikasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

*Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan, Anggota Majelis Tabligh dan Pustaka Informasi PRM Nogotirto

Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.

Sumber asli: suara aisyiyah • Kunjungi Tautan Asli →

Bagikan Berita Ini:

Komentar & Diskusi Pembaca

Memuat tanggapan pembaca...