LDKS IPM SD Muhammadiyah 16 Surabaya
Surabaya, Suara ‘Aisyiyah — Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) bukan sekadar tempat siswa belajar menjadi pengurus organisasi. Di SD Muhammadiyah 16 Surabaya (Sekolah Kreatif Baratajaya), proses kaderisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) justru diawali dengan mendengarkan suara siswa.
Gagasan itu terlihat dalam IPM Sekolah Kreatif Baratajaya di Hall Lantai 3, Jumat (19/6/26). Sejak pukul 08.00 WIB, para peserta mengikuti rangkaian pembukaan yang dipandu Raih Harmonia Ilmi dan Elora Kalani Aulia.
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Suyono saat membuka kegiatan menekankan bahwa IPM dapat menjadi ruang bagi siswa untuk belajar mengambil peran.
“Selamat berproses dalam suatu organisasi otonom Muhammadiyah. IPM adalah salah satu organisasi pelajar yang mewadahi pelajar seperti kalian,” ujarnya.
Menurut Suyono, LDKS tidak berhenti pada pengenalan organisasi. Peserta akan belajar kepemimpinan, organisasi, sekaligus ke-Muhammadiyahan.
“Selama mengikuti acara ini tentu banyak ilmu yang akan kalian terima terkait dengan kepemimpinan, organisasi, dan juga ke-Muhammadiyahan,” katanya.
Ia berharap proses tersebut menjadi bekal bagi siswa menghadapi tantangan pada masa mendatang. “Harapannya di IPM ini kalian ditempa menjadi leader yang siap menjawab tantangan masa depan yang semakin kompleks. Selamat mengikuti pelatihan,” tutur Suyono.
Bukan Sekadar Pre-Test
Pesan tentang kepemimpinan itu kemudian diterjemahkan dalam kegiatan yang menarik. Peserta tidak langsung dijejali materi organisasi, tetapi terlebih dahulu diminta menyampaikan apa yang mereka ketahui dan harapkan dari IPM.
Pembina IPM Sekolah Kreatif Baratajaya, Nasyiatul Lailah bersama kader Pimpinan Cabang IPM Ngagel memandu pre-test tersebut. “Pre-test ini tidak sekadar untuk mengetahui pemahaman peserta tentang organisasi dan IPM,” jelas Lailah.
Peserta diminta menuliskan pengetahuan mereka tentang organisasi dan IPM sekaligus harapan terhadap keberadaan IPM di Sekolah Kreatif Baratajaya. Bagi Lailah, jawaban tersebut memiliki fungsi lebih jauh.
Baca Juga: Muatan Lokal dan Menjaga Identitas di Sekolah
BACA JUGA
“Ini juga bagian dari student voice untuk mengetahui bagaimana IPM Sekolah Kreatif Baratajaya akan berjalan,” tambahnya.
Dengan demikian, siswa tidak ditempatkan semata-mata sebagai objek kaderisasi. Suara, gagasan, dan harapan mereka menjadi salah satu bahan untuk melihat arah pengembangan organisasi.
Pendekatan itu sekaligus membuka ruang agar IPM tumbuh berdasarkan kebutuhan siswa yang akan menjalankannya.
Belajar Memahami Organisasi
Ketua IPM Sekolah Kreatif Baratajaya, Noura Malia menyambut positif pelaksanaan LDKS tersebut. Ia bersyukur seluruh anggota IPM bersedia mengikuti kegiatan.
“Saya bersyukur semua anggota IPM bersedia mengikuti LDKS ini,” ujar Noura.
Menurutnya, LDKS menjadi kesempatan bagi anggota untuk belajar bersama sekaligus memahami tanggung jawab mereka dalam organisasi.
Setelah peserta menyampaikan pemahaman awalnya, materi dilanjutkan oleh Ketua Pimpinan Daerah IPM Surabaya Annisa Fitria Putri.
Annisa mengenalkan IPM kepada peserta, mulai dari sejarah berdirinya hingga kedudukan IPM sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah.
Ia juga menjelaskan fokus gerakan IPM. Materi tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami bahwa IPM bukan sekadar nama organisasi maupun kumpulan kegiatan siswa.
Bagi peserta, pemahaman tersebut menjadi bekal sebelum mereka menjalankan peran dan program organisasi di lingkungan sekolah.
LDKS IPM Sekolah Kreatif Baratajaya akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin. Lebih dari itu, kegiatan ini membuka proses belajar tentang bagaimana siswa mengenali organisasi, menyampaikan gagasan, mendengar kebutuhan sesama, dan mengambil tanggung jawab.
Sebab, kepemimpinan di kalangan pelajar tidak selalu dimulai dari kemampuan memberi instruksi. Ia dapat dimulai dari keberanian untuk menyampaikan suara dan kesediaan untuk mendengarkan suara yang lain. (Ahmad)-sa
Pemberitahuan Redaksi: Artikel ini dihimpun melalui jejaring informasi sindikasi media.
Sumber asli: suara aisyiyah • Kunjungi Tautan Asli →
Komentar & Diskusi Pembaca